Pulang

Pada akhirnya semua akan Pulang.

Bukan sekedar rumah.

Bukan sekedar tempat tinggal.

Bukan sekedar orang tua.

Bukan sekedar kekasih.

Tapi,  pada perasaan yang sebenar-benarnya.

Apakah rumahmu yang kamu rindukan?

Apakah penghuninya?

Apakah kontrakan mungilmu yang kamu rindukan?

Atau pelukan hangat kekasihmu?

Sederhana, tapi bermakna.

Sederhana, tapi kompleks.

Jadi, pulang kemana kamu malam ini?

Yang Baru

feMz:

so, who are you? who are we?

Originally posted on LINIMASA:

JUJUR saja, saya masih lumayan samar soal arti kata hipster sampai saat ini. Istilah yang selalu digunakan dalam setiap suasana dan kesempatan selama setahun terakhir, terlebih di lingkungan pergaulan dan khalayak anak muda kota besar Indonesia yang cukup eksklusif. Sampai muncul kesan mblenek saking seringnya, juga upaya keras banyak orang agar mampu mencapai status tersebut.

Dari sejumlah asumsi pribadi, hipster sama dengan gaul dalam makna konotatif. Mereka yang tergolong dan dinilai pantas mendapat predikat hipster pasti identik dengan hal-hal kekinian. Dengan sejumlah preferensi (baca: gaya, mode, filosofi, prinsip, idealisme, You name it) yang tidak pasaran, mereka akrab dengan tren-tren terbaru, bisa bergaya maksimal atasnya, termasuk mampu memberdayakannya, minimal untuk tampil beda dan menarik perhatian sekitar. Mohon dikoreksi bila saya salah mengartikan.

A person who is unusually aware of and interested in new and unconventional patterns.” – kata kamus Merriam-Webster.

Akan tetapi, belum lagi redup popularitas status hipster

View original 980 more words

Ah, Millennials

feMz:

no, i am not truly millennials :p

Originally posted on LINIMASA:

Selesai libur lebaran, aku menemukan muka-muka baru di kantor. Masih muda. Segar dan berpenampilan kasual. Satu diantara mereka bahkan punya Tatto di wajah. Mereka bawa laptop sendiri. Pakai headphone saat bekerja. Makan siang sendiri. Mejanya rapi. Ndak ada kertas atau alat tulis. Apalagi buku. Bagian personalia bilang, paling cuma dua minggu, liat aja.

Apakah ada yang terbiasa dengan penggolongan generasi? Atau teori gelombang perdadaban? Aku pikir dua faham itu masuk akal. Papaku lahir di generasi Baby Boomers. Beberapa tahun setelah Perang Dunia II. Secara umum, mereka kalangan penyusun ulang pranata sosial yang hancur karena kekacauan dunia. Mama lahir sebagai generasi Jones. Akhir dari masa Baby Boomers. Kakakku lahir di generasi X. Semua serba budaya Pop. Aku sendiri sebagai generasi MTV atau Generasi Y? Masih dalam perdebatan. Karena aku lebih suka Trace Urban dan Iyeth Bustami ketimbang MTV. Mari kita tengok Generasi Y (baca: Millennials).

image

Masih ada keragu-raguan kapan kiranya Millennials…

View original 1,180 more words

Ah, Millennials

feMz:

no, i am not a trully millennials :P

Originally posted on LINIMASA:

Selesai libur lebaran, aku menemukan muka-muka baru di kantor. Masih muda. Segar dan berpenampilan kasual. Satu diantara mereka bahkan punya Tatto di wajah. Mereka bawa laptop sendiri. Pakai headphone saat bekerja. Makan siang sendiri. Mejanya rapi. Ndak ada kertas atau alat tulis. Apalagi buku. Bagian personalia bilang, paling cuma dua minggu, liat aja.

Apakah ada yang terbiasa dengan penggolongan generasi? Atau teori gelombang perdadaban? Aku pikir dua faham itu masuk akal. Papaku lahir di generasi Baby Boomers. Beberapa tahun setelah Perang Dunia II. Secara umum, mereka kalangan penyusun ulang pranata sosial yang hancur karena kekacauan dunia. Mama lahir sebagai generasi Jones. Akhir dari masa Baby Boomers. Kakakku lahir di generasi X. Semua serba budaya Pop. Aku sendiri sebagai generasi MTV atau Generasi Y? Masih dalam perdebatan. Karena aku lebih suka Trace Urban dan Iyeth Bustami ketimbang MTV. Mari kita tengok Generasi Y (baca: Millennials).

image

Masih ada keragu-raguan kapan kiranya Millennials…

View original 1,180 more words

Dasep Ahmadi: Inovator jadi Tersangka

feMz:

ada yang bisa menjelaskan ini??
“Terlepas dri pro kontra yang ada, menurut saya merubah mesin internal combustion mobil Alphard menjadi mobil listrik tentunya tidak bisa dibenarkan secara hukum.”

Originally posted on faisalbasri01:

Saya mengenal Dasep sudah cukup lama. Ia sosok nasionalis sejati. Ingin melihat negerinya maju lewat akselerasi industrialisasi. Beragam komponen otomotif sudah dia hasilkan. Dengan darah dan keringat, nyaris tanpa bantuan pemerintah.

Malahan, pemerintah kerap “menggangu” derap langkahnya. Dengan keterbatasan industri penunjang, Dasep berjibaku bersaing dengan komponen otomotif impor yang bebas bea masuk. Padahal, komponen yang dihasilkan Dasep butuh bahan baku impor yang dikenakan bea masuk sekitar 5 persen sampai 15 persen. Ia pun harus membayar PPN impor dan PPh bayar di muka. Berarti, Dasep harus menyediakan modal kerja lebih banyak ketimbang importir. Modal kerja yang Dasep pinjam dari bank bunganya belasan persen.

Kalau Dasep hendak melindungi produknya agar tidak gampang dijiplak, ia harus mendaftarkan produknya agar dapat hak paten. Belum lagi kalau hendak mendapatkan SNI. Semua pakai ongkos yang tidak murah. Butuh waktu yang lama pula.

Kebijakan pemerintah sungguh sangat menyulitkan industriawan sejati seperti Dasep. Kebijakan pemerintah lebih mendorong perkembangan pedagang atau importir.

Dasep maju terus. Ia melangkah…

View original 194 more words

INFO Sandi Maling / Rampok #repost

Informasi penting : Kalau menemukan coretan di dinding atau tiang telpon sekitar rumah, seperti ini langsung saja hapus atau cat ulang dengan memblok tulisan tersebut.
Karena ada indikasi maling/rampok sedang mengincar lingkungan anda.

Cross merah : Ada penjaga.
Cross putih : Tidak ada penjaga.
PA : Posisi Aman.
524 : Indikasi jam 2 aman melakukan aksi.
Strong : Recomended jadi target aksi.

Sbg Contoh dari coretan PAB2 524-STRONG
PA : Posisi Aman
B2 : Alamat posisi rumah (B2= Buaran blok 2)
524 : Jam aman melakukan aksi ( 5 : mulai jam 17.00-19.00 dan 24 : mulai pukul 02.00-04.00 pagi ).
STRONG : Lokasi aman untuk melakukan aksi.
Cross merah (+) : Ada satpam/ penjaga.
Cross putih (+) : Tidak ada satpam/penjaga.

Semoga bermanfaat.

View on Path