Ilmu welas asih levelnya emang udah tinggi banget sih. Buat yg mau merasakan ademnya welas asih bisa nyoba baca buku ” ‘si cacing’ ttg perjalanan seorg biksu”.

Satu lagi, merasa paling benar seringkali membuat kita gampang mendidih dan mencibir.

#reshare #selfnote #perspective

Posting Muhammad Zazuli;
BAGAI LANGIT DAN BUMI

“ PERINGATAN : Kaum Mukidi Gagal Paham (MGP) dan Geng Senggol Bacok (GSB) DILARANG KERAS baca tulisan ini karena dijamin akan kejang-kejang hebat dan darah tinggi kronisnya akan tambah akut dan kambuh….!!! “

Seorang fotographer yang kreatif dia bisa memotret suatu objek dengan mengambil angle dan sudut pandang yang unik, menarik dan berbeda sehingga bisa menghasilkan karya seni yang bernilai artistik tinggi. Dalam tulisan kali ini saya akan memilih dan mengambil peristiwa tertentu dan mencoba menganalisanya dengan logika yang mungkin belum pernah ada yang berani menyampaikannya.

Bagi sebagian orang mungkin tulisan ini akan bersifat Mind Blowing (meledakkan pikiran) sehingga bagi Anda yang belum siap mohon berhenti membaca tulisan ini sekarang juga demi kesehatan jasmani dan rohani Anda. Saya sudah memberi peringatan, jadi jika Anda tetap ngeyel dan terus membaca maka jangan salahkan saya dan silakan tanggung sendiri akibatnya hehehe…..

Saya ingat dulu ketika terjadi peristiwa Bom Bali tahun 2002 yang menewaskan lebih dari 200 orang, meluluhlantakkan Bali dan mematikan wisata Bali selama hampir setahun lebih. Saat itu ada wartawan yang bertanya kepada Ade Rai seorang atlet dan selebritis asal Bali yang beragama Hindu. Dengan bijak Ade Rai menjawab begini : “ Kita orang Bali percaya karma. Semua yang terjadi adalah akibat perbuatan kita sendiri. Peristiwa ini justru menjadi ajang bagi kita untuk melakukan instropeksi.”

Sungguh jawaban yang luar biasa dari seorang yang “hanya” berprofesi sebagai artis dan sama sekali bukan pemuka agama. Kampung halamannya dibom dan dihancurkan oleh orang dari luar agama dan luar wilayahnya tapi sama sekali dia tidak menyalahkan ataupun membenci pelakunya melainkan justru instropeksi diri. Sungguh ini adalah teladan nyata dari sikap Rasulullah yang juga pernah memaafkan musuh-musuhnya. Dia adalah seorang Hindu yang sungguh Islami.

Pada bulan Juli 2016 terjadi pembakaran terhadap 7 vihara di Tanjung Balai, Sumatera Utara hanya karena dipicu oleh hal yang sangat sepele. Ibu Tjan salah seorang pendiri Vihara Tri Ratna yang dibakar tidak marah, tidak ngamuk tapi justru berterima kasih pada para pembakar tersebut. Dia justru berkata kepada anaknya (sebagaimana kesaksian anaknya sendiri yang dibagikan melalui media sosial) : “Kita harus berterima kasih kepada orang yang membakar, karena tempat itu sekarang menjadi ladang untuk menanam karma baik yang sangat luar biasa bagi siapapun yang akan membangun kembali vihara itu, sayang mama sudah terlalu tua. ”

Sang anak bertanya : “Mama ga sedih? Ga marah?”. Ibunya menjawab : “Sila pertama dari agama Buddha adalah Metta : cinta kasih, masak kamu lupa? Orang yang membakar akan terima karmanya itu urusan alam ini. Kalau kita marah, membenci apalagi membalas dengan membakar tempat ibadah orang lain ya jadinya kita yang membuat karma buruk… ”

Sungguh jawaban yang luar biasa bijak dan penuh cinta kasih. Jawaban ini juga mencerminkan ahlak Nabi yang selalu membalas kejahatan dengan kebaikan. Inilah ahlak Islami yang sebenarnya. Yang berani bilang orang seikhlas ini masuk neraka pasti sudah miring otaknya.

Kemudian juga ada Elizabeth, seorang Kristen, ibu kandung dari Ade Sara Angelina yang disiksa dan dibunuh dengan sadis oleh mantan pacarnya yang bernama Ahmad Imam Al Hafitd dan kekasihnya Assyifa Ramadhani dengan cara dipukul, disetrum dan dibekap pada Juli 2015 lalu. Tapi ibu ini bisa memaafkan para pembunuh sadis anaknya bahkan juga membawakan makanan bagi mereka di penjara. Dia berkata : “Ade yang tenang di sana, mama sudah maafin Hafid dan Sifa, Ade juga maafin mereka ya….”

Ibu ini juga berkata pada kedua pembunuh anak kandungnya saat bertemu mereka sambil tersenyum, “Ibu tidak dendam pada kalian, kalian masih boleh panggil saya mama, dan saya percaya setelah kalian menjalani hukuman kalian akan menjadi anak-anak yang baik.“ Sungguh luar biasa. Inilah rahmatan lil alamin dan ahlakul karimah yang sebenarnya. Inilah karakter yang meneladani watak pengasih dari Rasulullah.

Sekarang bandingkan dengan perkataan dari seorang tokoh petinggi lembaga agama saat menanggapi permintaan maaf dari seorang pejabat yang kebetulan sedang kepleset lidahnya. Orang ini dengan nada keras mengatakan “ Dia seharusnya dibunuh, disalib, dipotong kaki dan tangannya serta diusir dari negeri ini !!! “ Padahal si pejabat tadi tidak ngebom ataupun membakar tempat ibadahnya. Juga tidak menyiksa dan membunuh anak kandungnya. Cuma kepleset perkataan itupun ga sengaja dan sudah menyesal dan minta maaf. Sebenarnya orang ini meniru watak siapa? Abu Jahal ataukah Abu Lahab? Atau mungkin malah meniru Hitler atau Stalin yang tidak pernah bisa memaafkan dan pinginnya selalu maen bunuh orang saja.

Saya hanya menunjukkan adanya perbandingan yang ekstrem dari beberapa kasus unik ini. Saya tidak sedang bicara soal agama mana yang benar dan agama mana yang salah karena sesungguhnya semua agama adalah benar dan sempurna di mata penganutnya masing-masing. Agama yang terbaik adalah agama yang bisa membawa seseorang menjadi lebih baik, lebih bijak, lebih damai dan lebih mengasihi.

Jika akal sehat dan hati nurani kita masih berfungsi normal maka seharusnya kita bisa membedakan mana yang memberi rahmat bagi lingkungan dan mana yang menebar teror bagi lingkungan? Mana yang menunjukkan Sifat Pengasih Tuhan dan mana yang jauh dari Sifat Pengasih Tuhan? Mana yang lebih menghayati ajaran agamanya dan mana yang hanya sekedar hapal teori agama tapi tidak pernah bisa memahami dan menjalankan intisari dari agamanya? Mana yang sudah cerdas dan dewasa secara spiritual dan mana yang masih kekanak-kanakan?

Saya tahu akan ada banyak orang yang kejang-kejang setelah membaca tulisan ini. Tapi percayalah tidak ada niat saya sedikitpun untuk melecehkan apalagi menghina saudara saya sendiri. Justru saya merasa kasihan melihat ada begitu banyak orang yang sakit tapi tidak pernah menyadari bahwa dirinya sedang sakit. Meskipun pahit tapi yang saya sampaikan dan berikan ini adalah fakta apa adanya, sekaligus obat dan jamu yang mungkin bisa sedikit mengurangi penyakit jiwa tersebut.

Tapi semuanya kembali berpulang pada diri kita masing-masing. Yang mau tetap kejang-kejang terus ya silakan. Yang mau berubah ya silakan. Yang mau diskusi ya silakan asal pake otak bukan pake dengkul. Yang mau komen sampah juga silakan tapi pasti saya delete karena saya orang beriman yang cinta kebersihan, karena kebersihan itu sebagian dari iman hehehe….

Mikiiirrrrr……..!!! ( gaya Cak Lontong )

View on Path

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s