Masih Hal yang Sama

“tapi karena mereka tidak pernah serius menilai dan menghakimi para laki-laki”

LINIMASA

Kita baru Kartini-an lagi kemarin. Momen yang–bagi sebagian orang–dirasa tepat untuk kembali berbicara tentang perempuan dan keperempuanannya di Indonesia, baik yang setuju maupun menolak apa pun itu lewat beragam alasannya. Bukan cuma pembahasan antara laki-laki dan perempuan, bahkan juga antara sesama laki-laki, maupun sesama perempuan. Sebab ada anggapan, hanya aktivis saja yang saban hari konsisten berbicara tentang topik ini; memang kerjaannya. Terserah mazhab pikirnya.

Jikalau saya boleh menarik kesimpulan secara diskursif, topik bahasan yang barangkali sudah mencuat sejak pertama kali manusia mengenali perbedaan visual antara penis dan vagina ini, pada dasarnya hanya beranjak dari satu hal: laki-laki dan perempuan tidak sama. Itu saja bukan? Dari situ, seiring perkembangan peradaban manusia di seluruh penjuru dunia, bahasan ini ketambahan perspektif aneka bidang, dibikin rumit dan seringkali tak terjangkau, mbulet ra karu-karuan. Ketidaksamaan antara laki-laki dan perempuan tak lagi sekadar urusan hayati, melainkan dibakukan dalam konsensus sosial kemasyarakatan, kaidah religius, ekonomi dan…

View original post 660 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s