Mau Dibawa Kemana Dieng Kita??

masalah sampah, masalah kita

it's.... just a note

Kata nya, lagu “Negri di awan” karya Katon Bagaskara itu, terinspirasi dari Dieng plateu. Ga heran sih, dataran tinggi Dieng ini sering-sering nya diselimuti kabut, aura nya misterius. Perkebunan sayur menyelimuti tanah yang bukit-bukit. Hawanya senantiasa sejuk cenderung menggigil…..

Tahun 2008 saya ke Dieng dalam merangka foto prewedd. Waktu itu Dieng relatif sepi. Belum ada Indomart dan penjual kentang goreng dipinggir jalan.

Hari ini (Desember 2014) saya kembali ke Dieng, keadaan sedikit banyak berubah….. Logika nya begitu sih. Saya aja lulus kuliah, masak Dieng ga boleh berkembang??

Nah…… yang saya pertanyakan adalah : Mau dibawa kemana perkembangan dataran tinggi Dieng kita ini?

2 malam saya tinggal di Dieng, dibawah guyuran hujan yang tidak saja mengandung pengawet, tapi juga mengandung pengembang, walaupun tidak mengandung stabilizer. Setiap saat pengennya mengunyaaaah tiada henti. Bagus juga, ada gorengan kentang di mana-mana. Kentang Dieng terkenal nendang, digoreng hangat, ditabur garam saja sudah enak banget………

View original post 195 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s