Review: 99 Cahaya di Langit Eropa

Minggu lalu, di suatu sabtu sore. Di sebuah bioskop. Diantara film film yang sudah  saya tonton maka jatuhlah pilihan pada film ini. Iya, saya terpaksa dan cukup kesal ga cuma karena filmnya tapi karena saya ga punya pilihan bioskopnya. Bukan apa apa, dari review yang saya dapat mereka bilang “filmnya ga bagus” atau “filmnya gantung”. Anyway, Studio TIM hampir penuh setengahnya.

Filmnya diangkat dari sebuah novel karya sepasang suami istri yaitu Rangga Almahendra (diperankan oleh Abimanya) & Hanum Salsabiela Rais (diperankan oleh Abimanya), ini adalah cerita mereka. Dan kalau sudah liat cover novel atau poster filmnya kamu ga salah kalau mikir ini ada nuansa islaminya. Film ini diramaikan oleh Jamie Aditya, VJ Nino Fernandez, VJ Marissa, Dewi Sandra. Cameo: Dian Pelangi, Fatin SL dan Hanum herself!

Ceritanya tentang seorang perempuan Indonesia yang suaminya dapat beasiswa S3 ke Vienna, Austria dan memutuskan daripada Long Distance Marriage (LDM) mending ikut aja. Dan ini juga yang bakal gw lakukan, mending deket pasangan dong!😉 And like mostly wife who accompany their husband to anotha place, most of them are housewife. Nahh.. Buat yang biasa aktif biasanya bakal bored to the max maka yang dilakukan biasanya exploring around the place or take courses or else.

Setelah tiga bulan keliling kota dan merasa bosan maka secara tidak sengaja Hanum menemukan pamflet tentang “belajar bahasa jerman gratis” dan ditempat ini ia bertemu dengan Fatma Pasha seorang wanita muslim Turki (Raline Shah) yang membawanya ke beberapa tempat peradaban islam dan hal hal lainnya.

Lain lagi dengan suaminya, Rangga. Rangga mengalami kesulitan mencari makanan halal di kampus, mendapat godaan dari teman kampus wanitanya, terbatasnya tempat untuk sholat, dan waktu ujian yang bertepatan dengan Jumatan dimana kalau tidak ikut ujian harus mengulang tahun depan.

Menurut saya ceritanya cukup standar. But at least buat yang suka traveling atau suka eropa film ini pasti bisa mengugah hasratmu to be there. Anyway ada beberapa poin yang bisa digarisbawahi dari film ini:
# Menjadi minoritas itu adalah suatu tantangan
# Kebenaran dan kebaikan pada akhirnya akan selalu menang
# Prinsip dan Akidah harus selalu dipegang teguh

Saya tidak tahu versi novelnya seperti apa akan tetapi saya sarankan kalian buat yang belum atau sudah menonton lebih baik membaca novelnya saja karena tidak perlu ada part-2 nya dimana harusnya ceritanya pun bakal lebih detail dan bagus.

ketika saya menulis ini filmnya sudah ditonton 1 juta orang yang katanya artinya film ini cukup berhasil (although watched less than 0,5% Indonesian Population)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s