Review: Tenggelamnja Kapal Van der Wijck

Saya berkesempatan untuk menonton Premiere Film ini di hari Minggu pagi, 8 Desember 2013 di XXI Plaza Senayan. thanks buat pelaksana dan sponsor ( @moviegoersID dan Reader’s Digest ). Di hadiri pula oleh Junot, Pevita, the awesome Reza Rahardian dan some casts plus photo session.

Film ini diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah aka Buya Hamka, diterbitkan pada tahun 1938. Buya Hamka adalah novelis, ulama, ahli filsafat dan aktivis politik. Beliau lahir di Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (17 Februari 1908 – Jakarta, 24 Juli 1981). Saya sendiri waktu kecil pernah baca buku ini tapi lupa sama isinya.

Novel ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Zainuddin (Bapak MInang, Ibu Makassar) yang tidak bisa menikahi Hayati (anak bangsawan Minangkabau) dengan alasan Zainuddin tidak beradat / asal usulnya tidak jelas ( di Makassar Zainuddin dianggap orang Minang (karena Patrilineal) akan tetapi di Sumatera Barat dia dianggap orang Makassar (karena Matrilineal) ). Hayati akhirnya menikahi Azis yang beradat dan dari keluarga berada. untuk beberapa saat Zainuddin sempat terpuruk dan akhirnya bangkit, berganti nama dan merasakan kesuksesan berkat kemampuan menulisnya. hal ini berbanding terbalik dengan apa yang dialami Hayati. Singkat cerita akhirnya mereka dipertemukan kembali, nah bagaimanan kisah selanjutnya? untuk lebih detailnya anda bisa membaca novelnya atau langsung menuju bioskop terdekat! hahha..

Sebagaimana kita ketahui, tidak semua film mampu membawa cerita sebuah novel ke layar lebar dengan sama persis. Yang saya suka, nuansa adat disini kental sekali sehingga saya merasa dibawa ke tahun 30-an, tidak hanya kostum dan view bahkan naskahnya pun dibuat seperti itu.

Buya hamka layak diacungi JEMPOL! walaupun kata seorang sumber novel tersebut dianggap menjiplak novel belanda akan tetapi bedanya disini Hamka mengedepankan konflik budaya. Ceritanya indah, mengilhami dan terasa dekat. Momen dimana Zainuddin menjadi kaya raya mengingatkan saya akan film Great Gatsby, terutama “rumahnya”. Untuk momen tenggelamnya banyak yang bilang mirip dengan film Titanic begitupun dengan posternya, buat saya itu cuma kebetulan saja karena film ini main ideanya bukan itu, berbeda dengan Titanic. Ada scene yang menurut saya pasangan ini cukup Lucky untuk mengucapkan perpisahan, like a second chance!

Film ini saya REKOMENDASIKAN! walaupun mungkin ada yang bilang akting Junot lebai banget, atau Pevita kurang minang dan masih hijau untuk membawakan perannya, dan lain sebagainya.

” MARI KITA MEMAJUKAN PERFILMAN INDONESIA “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s