Kalianda, Lampung Selatan.

I’ve been raised here. Lima tahun saya disini (kelas 2 SD – 1 SMP). Era sebelumnya saya tinggal di Tangerang bersama nenek yang beberapa kali liburan disini, tempat ayah saya bekerja.

Masa kecil itu begitu berwarna disini. Saya tinggal dikomplek, bermain dengan anak komplek dan anak kampung sekitar. Tiap habis maghrib mengaji di salah satu rumah penduduk bareng dengan anak2 lainnya, bayarannya (kalau tidak salah) beras/uang seikhlasnya.

Waktu itu, di kota kecil ini keluarga saya cukup terpandang maklum ayah saya bekerja sebagai kepala cabang salah satu BUMN. Tetapi itu tidak berpengaruh untuk seorang anak ingusan bukan hahah..
Saya sekolah di sekolah negeri. Dapat NEM tertinggi ketika SD, masuk SMP favorit. Kehidupan akademis tidak bermasalah aka berprestasi  Walaupun dikenal sebagai preman sekolah (geez, julukan macam apa itu haha..)

saya punya cukup banyak teman, menyukai permainan tradisional, suka main ke pasar, ikutan pramuka, suka makan bakso sore2 di komplek, seneng banget kalo ada tukang bubur sum-sum, suka jaga rumah sendirian dan akhirnya ngajak teman buat nginep (saat kelas 6 SD – 1 SMP), ikutan les bahasa inggris, jadi korban cinta monyet, arisan ga jelas, berantem2 ga jelas. Main kelereng, gobak sodor, benteng, taplak, karet, bulu tangkis, dan jolot (alat utamanya batu gede, buat dilempar langsung pakai tangan atau kaki, seru!). olahraga favorit saya kasti dan sejenisnya.

Rumah pertama saya di komplek (rumah dinas). Kami tinggal disana sampai saya kelas 4 SD. Kemudian kami pindah, tempatnya dekat sekali dengan yang lama, sekitar 5’ jalan kaki. Kami masih bisa saling memandang satu sama lain di masing rumah heu..

rumah baru ini dibangun oleh ayah. Menurut saya this is the real house. Rumah ini benar2 dibangun sebagaimana konsep rumah keluarga. Punya 5 kamar dengan 4 kamar mandi. Sedangkan masih ada dua kamar lagi yang belum selesai dibangun. Punya halaman depan dan belakang yang luas. Dan halaman samping yang sempat dibuat sawah dengan banyak pohon mangga. Berbatasan langsung dengan kali kecil disamping rumah, otomatis tidak ada masalah dengan ketersediaan air. Di depan rumah ada SMA. Dekat dengan jalan trans Sumatra, dan masjid.

pada tahun itu juga. sepupu saya (Lucy) ikutan tinggal di Kalianda. Seperti di rumah sebelumnya beberapa kali Oma ikut menginap. Sepupu saya hanya dua tahun di lampung 

saya habiskan masa kecil saya disini. Teman2 SD jg sebagian besar masih ada disana tapi hanya sebagian yang terdeteksi oleh saya. Untungnya mostly tidak pindah rumah dan nomor telp rumah jg masih sama. Jadiii..cukup dtg saja ke rumah salah satu teman maka cerita2 pun akan bermunculan. Saya Cuma agak pesimis bagaimana menjalin ikatan silahturahmi ini dengan baik. Jarak dan waktu benar2 terbentang sehingga kalau ngobrol sekarang jadi susah buat nyambung.

iam sure We missed each other that much jejeje..

One thought on “Kalianda, Lampung Selatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s